Kamis, 30 Oktober 2008

Fiksi atas Fakta (pt.22)

Hari ini Jakarta akhirnya berderai tangis.
Rhino pun bersorak dalam hati melihat langit yang menggelap, menghantarkan awan-awan besar yang siap menumpahkan literan air.
Matahari akhirnya mengalah, mundur dari peraduannya, dan bersembunyi di balik kilatan cahaya dan gemuruh guntur.
Bau jalanan aspal yang panas, tersiram air, membaui indera penciuman Rhino.

Rhino selalu menyukai musim hujan.
Karena ia bisa punya alasan untuk membeli jumper, coat, hoody, shawl dan scarf baru.
Segenap asesoris pelindung tubuh dari dinginnya udara.
Beda dengan ketika musim panas berkuasa.
Kreatifitasnya seperti tertambat, yang ada di pikiran hanya mengenakan celana pendek, sendal jepit, dan kaos.
Sebisa mungkin menyisakan sedikit bagian kulit yang tertutup baju, agar tidak kegerahan, tapi resikonya bagian kulit yang tidak tertutup pakaian tersebut harus bersinggungan langsung dengan matahari.
Perih.
Dilema.

Ditutup window Plurk-nya.
Tempat ia mencurahkan banyak hal, kebanyakan seputar pekerjaan, tanpa harus takut banyak yang baca.
Karena masih sedikit orang yang punya account di Plurk.

radityarhino bilang pusing sama maunya klien, katanya suruh cari alternatif lain, tapi sekarang bilang mau pilih konsep yang kemaren aja

radityarhino senang akhirnya si marketing dipecat juga

radityarhino terharu karena pandji pragiwaksono mau nulis untuk majalahnya

radityarhino stres karena desainer barunya kurang bagus desainnya

radityarhino bosen nungguin artikel dari kontributor dan jurnalis yang belom kelar

Menyenangkan.

Beberapa menit kemudian Rhino sudah bergegas keluar dari area kampusnya.
Menyusuri jalan penghubung antara Sudirman Park dengan Wisma BNI Sudirman.
Pantofel lancipnya bersinggungan dengan jalanan yang masih lembab.
Ditariknya resleting fitted jacket-nya hingga ke leher, sambil terus berjalan dengan dua tangan bersedekap.
Hembusan angin membuat pipinya kebas.
Betapa aneh udara Jakarta, baru kemarin ia mengeluh kepanasan, sekarang ia menikmati dingin.

Alunan musik bernuansa lounge koleksi Ministry of Sound 2008 mengalun kencang di telinganya.
Menemani kegiatannya berjalan kaki.
Badannya masih agak terasa pegal.
Matanya masih agak berat.
Kemarin malam, Rhino habis berhura-hura dalam gelaran Sundaze di Segarra dengan Marsya Tita dan Diandra.
Sundaze kemarin mengharuskan orang-orang yang datang mengenakan pakaian bernuansa putih.
Sehingga kemarin banyak sekali orang-orang berbaju putih asik berakraban di pinggir pantai, mendengarkan dentuman musik yang dimainkan DJ, sambil menenggak minuman di tangan masing-masing.
Rhino berkhayal, akankah surga bisa seperti itu adanya?
Orang-orang berbaju putih, di pinggir pantai, menikmati hembusan angin sore, dengan musik yang pas.

"Hei Tas,"
akhirnya Rhino tiba juga di Starbucks BNI 46.
Ia segera menemukan sosok Tasya yang sedang duduk sendiri di sebuah meja, bertemankan sebuah buku.
Tidak jauh dari situ, Girindra masih sibuk meeting dengan teman-temannya.
Girindra punya usaha tempat makan pancake, sharing kepemilikan dengan beberapa orang teman kampusnya.
Rhino seperti biasa, ingin menebeng Girindra pulang ke rumah.
"Hei Rhin, nice glasses," Tasya memuji kacamata  round-framed nya yang menyerupai kacamata milik Harry Potter dan John Lennon, dan hampir sama dengan koleksi Marc by Marc Jacobs.
"Thanks, hadiah ulang tahun nih dari temen. Girindra belom kelar, ya?"
Rhino menunjuk Girindra dengan dagunya.
Tasya menggeleng.

"Bentar ya Tas, gw mesen dulu," Rhino kemudian berjalan ke konter pemesanan dan memesan Hot Caramel Macchiato.
Ia menggosokkan kedua telapak tangannya sambil menunggu antrian.
Udara dingin di luar, ditambah suhu rendah pendingan ruangan membuat dirinya sedikit gemetar.

Beberapa menit kemudian Rhino kembali dengan Hot Caramel Macchiato-nya di tangan, kemudian duduk di sebelah Tasya.
"Tadi sebelum ke sini ke mana dulu, Tas?" Rhino membuka percakapan.
"Ke atas, Cilantro, makan dulu."
"Oh.. entar pulang dianter Gir lagi?"
"Enggak. Tadi dari kampus bawa mobil bareng, cuma ini Girindra minda ditungguin."
"Ooww..."
"Elo kok rapi banget sih, Rhin? Bukannya dari kampus?"
Tasya sedikit memperhatikan setelan kemeja dengan white spread collar, basic pants hitam, dan pantofel lancip Rhino.
"Emang gini sekarang kalo ke kampus, Tas. Regulasi baru untuk angkatan gw. Karena kan kita lagi program internship, jadi ya kampus maunya kita pas ke kampus kayak orang-orang yang udah kerja dengan pakaian profesional. Nyebelin. Padahal gw ke kantor aja bisa pake celana pendek sama sendal. Untung kuliah cuma seminggu dua kali."
"Oh .. elo ngikutin Heroes enggak sih, Tas?"
"Enggak. Gw nonton pertamanya doang, terus gw takut ngeliat si Niki sama Jessica, soalnya bunuh-bunuh orang gitu. Gw ngikutin Ugly Betty."
"Oh.. Ugly Betty!"

Maka habislah sekitar 15 menit waktu mereka menunggui Girindra dengan membicarakan Ugly Betty, serial TV yang juga Rhino gandrungi. Rhino menyukai serial TV, ataupun tontonan yang menurutnya, memiki script yang bagus, seperti Greys Anatomy, Gossip Girl, How I Met Your Mother, Boston Legal dan Heroes.

Gossip Girl sendiri dari segi jalan cerita tidak terlalu penting, cuma tontonan remaja dengan konflik yang dibuat-buat. Tapi skripnya mampu membuat Rhino tercengang. Brilian.

"Yuk balik," Girindra menghampiri mereka ketika meeting-nya, akhirnya selesai.
Mereka mengantar Tasya dulu ke mobilnya, baru kemudian ke mobil Girindra.
"Eh Rhin, nanti dateng ya kawinan kakak gw." kata Girindra sambil membuka automatic key mobilnya.
"Sip, ngundang siapa lagi lo?"
"Cuma elo, Viona, dan umm Nadia, yang kakak gw kenal aja. Karina enggak."
"Ok," kata Rhino sambil masuk ke dalam mobil.
"Enggak diundang, bukan karena gw ya Rhin, tapi karena emang dia enggak kenal kan sama kakak gw."
Rhino diam, enggak ada yang minta penjelasan juga gitu, batin Rhino.








Blogged with the Flock Browser

Tidak ada komentar: