Selasa, 21 Oktober 2008

Fiksi atas Fakta (pt.21)

“Eh cum, masa ya kemaren gw melakukan hal bodoh kayak elo.”
“Apaan?”

Rhino dan Nadia sedang berputar-putar Mal setelah makan siang, kebetulan Nadia ingin mencari kado untuk teman barunya, Okky.

“Kemaren gw ke rumah Vadim, ternyata deket rumahnya lagi ada hajatan. Terus pas pulang, mereka juga bubaran, dan banyak banget yang cium tangan gitu. Apa tuh namanya?”
“Salim?”
“Iya salim, ke orang yang lebih tua. Eh tiba-tiba enggak sadar, gw ngambil tangan Vadim, terus gw cium juga. Ya heranlah si Vadim.”
Rhino tertawa terbahak.
“Tapi elo masih mending, at least waktu itu elo latah karena elo ngeliat depan mata lo ada yang lagi kayak gitu. Nah gw? Enggak ada angin enggak ada ujan, tiba-tiba gw mau salim sama Girindra pas mau turun dari mobil, gara-gara dalam otak gw, gw lagi semobil sama bokap. Untung gw cepet sadar, kalo enggak kan Girindra keburu ngasih tangannya, terus gw cium. Gila berbakti banget gw sama dia.”
“Hahahahaha.. emang sih elo lebih bodoh dari gw ya, Rhin.”
“Sialan lo, waktu itu kan gw lagi sakit, jadi itu pengaruh obat.”
“Ya apalah, ya…”

“Btw Nad,” kata Rhino sambil mencoba jaket parasut warna biru elektrik koleksi Zara, “elo kok udah tau hubungan lo sama Vadim enggak jelas, tapi masih juga dilakuin. Itu kan bodoh, Nad. Elo tau sendiri casual relationship itu cuma kayak license to kiss and say goodbye, enggak sehat, hampir sama kayak HTS. For me it’s like saying, ‘Hi, I like you, but I don’t love you yet. Well, until then, can we just kiss?’ Super bodoh”.
“Ya, enggak tau, deh. Gw emang lagi bodoh sekarang.”

“Eh Nad, gw males kuliah, deh. Pengen bolos aja yang mata kuliah pertama. Kita ngobrol aja yuk di J.Co, jangan di Starbucks. Bosen.” ujar Rhino ketika mereka akhirnya melangkah keluar dari (X) S.M.L. Nadia mendapatkan kado yang ia inginkan di situ, bukan di Zara.
“Haha.. dasar lo pemalas.”
“Abis ngantuk, udah gitu dosen yang ini ngebosenin banget.”
“Ya udah, yuk.”
Dalam perjalanan menuju J.Co, mereka menemukan Dasa di dekat Starbucks, dengan seorang perempuan.
“Nad, Dasa tuh, sama cewek.”
“Hmm.. terus gw musti ngapain? Siapa ya tuh cewek?”
“Tegor aja, entar dikenalin kan tuh cewek. Kalo ditanya elo dari mana, bilang aja dari kantor mau nyamperin Vadim ke apartemennya. Biar dongkol dia.”
Nadia tersenyum.

Kemudian berdua mereka menghampiri Dasa.
Nadia berdeham, Dasa berbalik badan.
Begitu dilihatnya Nadia, Dasa seperti mencoba tersenyum, tapi yang keluar adalah ekspresi canggung dan tertangkap basah.
“Eh Nad, kok ada di sini?”
“Ini kan tempat umum bukan? Sama siapa, Sa?”
“Sama ini kenalin, temen.”
“Nara,”
Perempuan itu menyebutkan namanya.
“Nadia,” Nadia tersenyum membalas uluran tangan Nara, kemudian sambil tersenyum berkata, “Lucu ya, nama kita sama-sama berawalan N.”
Kemudian Nadia sedikit berbisik ke kuping Dasa, “Kamu enggak kreatif, ya.” Membuat Dasa memerah.
“Kamu mau ke mana, Nad?” Dasa mengalihkan pembicaraan.
“Mau ke apartemen Vadim. Tau Vadim, kan? Pacar aku?”
Dasa mengangguk.
Strike one, Rhino tersenyum, sambil berdiri manis di samping Nadia.
“Ya udah, aku pergi dulu ya, Sa.”

Mereka berdua kemudian melangkah pergi menjauh meninggalkan Dasa dan temannya.
Begitu sudah agak jauh, Nadia dan Rhino sama-sama tertawa.
“Rule number one, if you’re datin Nadia Priskilla Angelia, never mess up with her!” ujar Rhino.
Mereka berdua kemudian kembali tertawa keras.
“Gimme five, be-yotch!”

Tidak ada komentar: