Selasa, 26 Agustus 2008

(Katanya) Sehat, Tapi Gak Bikin Sehat

Setiap hari kalau mau ke kantor, saya harus sedikit berjalan kaki melewati area pelataran parkir
sebuah mal di dekat kantor.

Setiap hari juga saya harus melewati sebuah bis promo produk kecantikan dan kesehatan, yang mengelu-elukan produknya yang ramah lingkungan.
Dengan warna produknya yang didominasi nuansa warna putih dan hijau.
Cukup melambangkan sebuah keasrian.
Tapi..
Yang bikin saya lumayan terganggu dan sedikit kesal melihat kampanye promosi mereka.
Bis yang digunakan sebagai venue berpromosi itu tidak pernah dimatikan mesinnya.
Spontan dari belakang bis, dari bagian knalpot, asap keabuan rajin menyembur keluar, menebarkan bau-bauan beracun khas knalpot.
Belum lagi, polusi yang diakibatkan oleh asapnya tersebut.
Belum lagi pembuangan tenaga akibat mesin mobil yang terus-menerus dinyalakan.
Katanya menawarkan produk kesehatan, mengelu-elukan anti global warming, tapi eksekusi dari kampanye-nya sangat berlawanan dengan apa yang mereka gembar-gemborkan.
Sebal.

Senin, 25 Agustus 2008

Passion (checked), Commitment (checked), Understanding (umm?)

Seorang teman baik, yang sama-sama suka nulis, dan sama-sama suka mikir (sampe kening berkerut), beberapa waktu lalu mem-posting sebuah artikel tentang “Letting Go” di situsnya.

Menurut dia, letting go itu mudah. Saya juga setuju.

Dan untuk bisa letting go sesuatu kita harus bisa mengerti dan tau bener value kita (lagi-lagi soal value).
Kalo memang sesuatu, let say pekerjaan, enggak sesuai lagi sama value kita, ya udah lepasin aja.
Atau mungkin seseorang, pacar, atau temen, yang value-nya enggak ketemu lagi sama kita, ya udah lepasin aja.

Tolak ukurnya gampang, passion.
Kita melakukan segala sesuatu baru bisa maksimal dan dinikmati ketika hal itu berhubungan dengan passion kita.
Kita mungkin bisa melakukan banyak hal, tapi kalau bukan passion kita, percaya, pasti enggak akan maksimal, dan lama-kelamaan kita juga bosen dan enggak enjoy.
Jadi, (penutup dari teman saya, yang cukup GONG), kalau kita pacaran, kerja, temenan, pelayanan tapi udah enggak ada passion-nya, untuk apa dipertahankan? Just let it go.

Bener juga! Tapi, si tukang pikir satu ini tiba-tiba berkerut keningnya.
Ok, tolak ukurnya passion, kalo passion-nya udah enggak ada, berarti it is time to let it go.
Passion is indeed important. But what about commitment?
Saya kemudian mikir, gimana dengan orang yang udah bertahun-tahun menikah?
Apa iya mereka masih punya passion yang menggebu-gebu seperti waktu mereka pertama pacaran?
Gimana kalau mereka passion-nya enggak ada, cintanya juga, bukankah pernikahan mereka hanya bergantung di atas komitmen yang sudah mereka buat di hadapan Tuhan?

Begitu juga dengan orang pacaran, yang udah serius, dan pengen end-up ke pernikahan.
Kalau suatu saat passion-nya hilang, apa iya terus mereka harus letting go of each other?
Kalau gitu, setiap kali pacaran, ya tiap kali passion-nya ilang, lepasin aja, cari yang lain.

Menurut saya, passion penting, komitmen juga penting.
Ketika si passion ini hilang, masih ada sebuah komitmen yang harus dipertanggungjawabkan.
Maka, ketika si passion hilang, jangan langsung dilepas, ada baiknya, menurut saya, dicari-cari lagi, diasah lagi, in other words, harus ada yang namanya kesempatan kedua.

Saya dan teman saya kemudian punya titik temu, yaitu kata MENGERTi.
Memang di bagian atas postingannya, sudah disebutkan, kita harus mengerti terlebih dahulu value kita apa.
Kita harus mengerti dulu passion kita apa sebelum kita letting go sesuatu.
Dan, tambahan saya, kita juga harus bisa mengerti, komitmen pertama yang kita buat seperti apa?
How far we were willing to be committed?

Keputusan

Kemarin malam, ketika sedang iseng menggonta-ganti saluran tv, saya menemukan sebuah acara talkshow di salah satu stasiun tv swasta.
Biasa saja, tidak terlalu bagus.
Saat itu topik yang sedang dibahas adalah tentang kecenderungan artis yang menggunakan narkoba, akibat pengaruh lingkungan dan pergaulan.
Dihadirkan seorang artis yang pernah masuk penjara karena keterikatan narkoba,
dan seorang artis yang konsisten dari dulu hingga sekarang menyandang predikat anti narkoba, bahkan dia aktif berkecimpung dalam LSM penentang narkoba.

Sengaja ditampilkan mereka berdua, agar mendapatkan jawaban dari dua sudut pandang yang berbeda.
Satu sisi mantan pengguna, dan satu sisi penentang narkoba yang sampai sekarang, buktinya bisa tidak terjerat narkoba, padahal dia juga berprofesi sebagai artis.

Selama ini orang menganggap dunia selebritas, media, entertainment dan sebagainya sangat ringkih dengan tipe pergaulan yang bersifat negatif. Stereotipe jelek dibebankan kepada orang-orang yang berada di dalam lingkungan pergaulan ”keartisan”.

Ketika seorang artis tertangkap menggunakan narkoba, orang Indonesia yang sebagian besar (mungkin) masih primitif, dengan santai bisa bilang, ”Yah, enggak heran, namanya juga artis, pergaulannya kan seperti itu, lingkungannya emang buruk.”

Pendapat si artis yang pernah masuk penjara tersebut cukup menarik, kira-kira seperti ini tanggapannya:

Kita enggak bisa salahin lingkungan. Di mana pun kita bergaul, pasti akan selalu ada yang membawa unsur yang negatif. Di lingkungan mana pun, saya, Anda, dia, kalau disebut nama, atau ditanya punya enggak kenalan yang mengkonsumsi narkoba, pasti akan menjawab punya, minimal satu. Narkoba itu, atau apa pun bentuk keburukan yang ada, akan selalu ada di sana. Itu namanya ketersediaan lingkungan. Memang, lingkungan kita menyediakan, tapi yang punya kendali siapa? Yang punya pilihan siapa? Kita, kan? Kalau kita mau, ya ambil aja, wong disediain sama lingkungan. Kalau kita enggak mau, kita bisa nolak, tapi suka atau enggak, ya itu akan tetap ada di lingkungan kita. Bukan berarti karena kita nolak, terus ilang ketersediaannya.

Singkat kata saya setuju.

Seperti prinsip yang selama ini saya usung, life is a matter of choices.
Ketika kita salah ambil keputusan, enggak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa kita salahin selain diri kita sendiri.
Banyak orang yang menyalahkan lingkungan, misalnya, “saya ngerokok karena dari kecil saya tumbuh di lingkungan perokok, atau karena teman-teman saya ngerokok, masa saya enggak.”
Come on!
Pilihannya untuk ngerokok atau enggak ada di tangan siapa?

Lingkungan akan selalu menyediakan segala yang kita perlukan, baik negatif maupun positif.
Tapi, pertanyaannya, keputusan kita apa?
Keputusan itu sesuatu yang vital.
Di balik keputusan itu memang ada faktor-faktor penguatnya, seperti:

1. Berpikir panjang.

Ini cara tergampang menurut saya. Sebelum ambil satu keputusan, pikir dulu yang panjaaannnngggg... sepanjang-panjangnya pikiran kita. Kalau gw begini, nanti gw gimana ya. Bagusnya buat gw apa, buruknya buat gw apa? Enggak boleh egois juga, kita musti bisa mikir, selain buat gw, dampak buat orang-orang terdekat gw apa, ya? Keputusan gw ini bakal bikin malu orangtua enggak, ya? Pake sistem tarik garis, kalau elo bikin satu keputusan di satu poin, ketika elo tarik garisnya, end-up nya di mana? Gw suka menanyakan ini ke diri gw sebelum gw membuat satu keputusan, persis seperti apa yang sering dikumandangkan seorang financial planner ternama, Ligwina Hananto, ”Tujuan lo apa?”

2. Tau value dan punya prioritas.

Menjawab pertanyaan di atas, ”Tujuan lo apa?” kadang enggak gampang. Dilemanya selalu ada di antara kata PENGEN dan PERLU. Untuk itu kita harus bisa prioritas, mana yang kita perlu dan mana yang cuma sekedar kita pengen. Kemudian, untuk nyusun skala prioritas dan menjawab pertanyaan tadi, kita juga harus tau value kita apa. Kalo kira-kira keputusan yang akan kita ambil sangat bertentangan dengan value kita, ya buat apa?

3. No compromise.

Hal ini juga yang seringkali bikin salah ambil keputusan. Berkompromi. Manusia cenderung enggak sabaran, mau yang A, ketemu yang A minus dua, mereka berkompromi, ya udahlah enggak apa-apa, daripada enggak dapet. Mengingat postingan saya sebelumnya tentang relationship, yang juga bisa diterapkan di area mana pun, kompromi di depan = bayar belakangan.

4. Tanya pendapat orang.

Ini juga salah satu faktor vital. Sebelum membuat satu keputusan, gw selalu tanya pendapat orang lain. Bukan sembarangan orang, tapi orang-orang yang menurut gw udah lebih expert dari gw, udah pernah ngalamin apa yang gw alamin, udah lebih mengerti dari gw, orang-orang yang gw look up to, leaders, best friends. Kebiasaan banyak orang adalah, minta pendapat ketika keputusan sudah dibuat. Sudah bikin keputusan, baru minta pendapat, ”Gimana menurut lo?” Itu namanya bukan minta pendapat, tapi itu salah satu bentuk cara meyakinkan diri sendiri bahwa keputusan yang udah (terlanjur) diambil, sama sekali bukan keputusan yang salah.

Jadi, keputusan apa yang udah kalian ambil hari ini?

Minggu, 24 Agustus 2008

(From the book) Cinescopes

I’m now reading “Cinescopes”, a book that reveals your character through your favorite movies.
This book is a really fun book to read.
So basically our most favorite movies really show who we really are.
There is a list of any kind of movies in the back pages, alphabetically listed, and it is very updated.
You can even find Men of Honor or The Dark Knight there.
Simply pick your 10 most favorite movies, each movie has a code.
The code will lead you to your character review.

And according through the code, I am The Chosen Adventurer.

Chosen Adventurers are driven to learn more about the world, fueled by a strong sense of curiosity. They tend to be open-minded and like to feel the blood pumping through their veins. Adventurers are daring, cultured, and bold.

Fact: Intinya satu, emang gw termasuk orang yang kepo.

Personality Strengths: No matter the situation. Adventurers get the job done. Times may be hard, but their character and integrity always stay the same. Adventurers are at their best when they can channel their strength to overcome an obstacle. Adventurers are open to new experiences, and they’re extremely confident when meeting new people. They respect the diversity of the world and treat the earth with a sense of reverence. This is why they readily find wise souls to mentor them in their careers and life. If someone needs rescuing, and Adventurer is the one to do the job.

Fact: I can always handle any tasks given to me. Dan terlalu sibuk ngurusin orang lain, enggak bisa liat konflik sedikit, gw pengen ikut campur dan ngeberesin konflik itu.

Personality Weaknesses: Adventurers find themselves vulnerable in emotional situations. They’re used to getting their way by being headstrong. This attitude works for them most of the time, but it isn’t always appropriate in delicate emotional situations. When someone close to them craves empathy, an Adventurer can become very matter-of-fact. Their demeanor comes across a gruff even though they don’t mean to be.

Fact: I am (yes) vulnerable and (yes) a bit sensitive. But sometimes I hide it so people would still think that I’m tough.

They are so quick to take on new skills that other people seem painfully slow in comparison. “What’s taking so long?!” is a thought that often rushes through their minds. If the television is on the fritz, they’re tempted to throw it away before tinkering with it. This impatience translates into a quick temper that can also be directed at those around them. That’s not to say that they’d throw a person in the garbage – but it depends on the person.

Fact: Impatience, I am. Haha. Suka gregetan dan jadi cranky sendiri kalo liat orang yang enggak ngerti kalo diajarin atau dibilangin. Suka kesel kalo people dont meet my expectations dari segi kualitas.

Their Deepest Secret: They actually worry a lot. They may appear to have it all together, but on the inside, they’re unraveling from stress. Adventurers really do want to vent their frustrations, doubts, and concerns to a trusted partner, but they seldom do. This is because they are proud individuals who don’t like to think of themselves as weak in any way.

Fact: Emang enggak gitu yakin sama diri sendiri sebenernya. Tapi dari luar orang harus liat bahwa gw bisa.. hoho. Makanya banyak orang yang judge gw dari luar itu enggak perdulian, itu semua hanya kamuflase untuk menutupi kekurangan. LOL.

At work: They love to push themselves in their careers, and they tend to achieve a lot in a short amount of time. They have loads of discipline, and they’re great at planning ahead. Adventurers project a self-assured quality that catches the eye of their superiors. Bosses tend to admire their firm character.

With friends: Friends see Adventurers as friendly, soulful, and intelligent. They can act as motivators: an Adventurer may force you to spend the night in the freezing desert to enjoy the stars, and despite your initial resistance, you’ll thank them for it later.

Fact: Sebagai temen mungkin gw suka kelewat tega dan terlampau pedes kalo ngomong. Tapi most of them bakal balik dan say thanks.

Friends can always count on Adventurers to be trustworthy; they never reveal more than they should about their friends, and they always say the right thing to everyone. You certainly won’t need to kick them under the dinner table; more likely, they’ll be kicking you.

Friends can’t always count on Adventurers to remain upbeat. During a road trip, they may give someone the silent treatment because they’re not driving fast enough. If the waiter is taking too long to bring the food, an Adventurer may be tempted to leave the restaurant.

Fact: Iya banget suka ngambek! Haha.. bukan ngambek sih, tapi males aja liat orang yang enggak bener kerjanya. Masa udah gede masih musti dikasih tau dan diajarin. Orang udah tau kalo gw ditanya enggak ngasih pendapat, tandanya gw males, atau udah strongly disagree. Hoho.

Film favorite gw yang akhirnya menentukan karakter asli gw:
Cars, The Dark Knight, Fantastic Four, Finding Nemo, The Incredibles, Iron Man, Jurassic Park, The Lost World, Spiderman 3, Stardust, 300, Titanic, Transformers, dan X-Men.

Haha.. gw enggak pernah sadar bahwa ternyata I’m a huge fan of heroic-theme movies. Atau yang berbau petualangan dengan ending jagoan menang dengan bahagia. Hahaha... Padahal di antara list film favorit gw juga banyak yang berbau drama atau komedi seperti Amelie, Babel, Narnia, Click, Devil Wears Prada, Garden State, Little Miss Sunshine, Lost in Translation, Love Me If You Dare, Marie Antoinette, Men of Honor, Punch Drunk Love, Reality Bites, The Simpsons Movie, Sin City, The Virgin Suicides, dll.

For any of you who want to reveal your character through your favorite movies, you can simply buy the book “Cinescopes”, or just visit www.cinescopes.com. It’s fun!

Kamis, 21 Agustus 2008

Cerita dengan Si Cumi, Kepo, dan Ketek

Saya punya tiga orang teman baik, yang masing-masing saya namai sesuka saya. LOL.
Kenal mereka sudah lumayan lama.
Dengan si Kepo sudah 2 tahunan.
Dengan si Ketek sudah 1 tahun.
Dengan si Cumi hampir 1 tahun.

Dulu kita sering pergi berempat, waktu sama-sama belum sesibuk sekarang.

Segarra.

Kemang.


Pasific Place.

Itu foto kita berempat terakhir.
Dan stelah tiga bulan enggak jalan bareng, kemarin kita sempat hangout bareng lagi.
Si cumi mamanya buka restoran dan dia semakin sibuk.
Si kepo udah punya cewe.
Si ketek juga sama sibuknya.
Saya sendiri juga gila-gilaan sibuknya.

Tapi, saya tau.. yang penting dalam pertemanan bukan jarak.
Atau kedekatan.
Atau seberapa besar frekuensi pertemuan kita.
Yang penting kesediaan untuk selalu ada ketika salah satu teman kita membutuhkan.



ps: yg ini fotonya sama dudut di karawaci.

(From The Book) Vital Friends

We expect the other person to meet our every need – to be the one who pushes us to achieve; who listens unconditionally; who always lends a hand; and who is, all the while, the most fun. Whether it was a good friend, someone we were dating, or a colleague at work, we always expected that person to do several things to uphold his or her end of the relationship. But it never happened, and we were always disappointed.

Maybe we should have looked in the mirror. When thinking about our friendships – from the vantage point of the other person – it is clear that we cannot meet many of the expectations we have had of others. There are countless things we expect from our friendships. We may have had a parent, teacher, or manager who expected us to be good at nearly everything. If so, we know how frustrating it can be when another person expects so much from us, and – no matter what we do – we cannot deliver. It is unlikely that one person can deliver everything.

The problem is, friendships are not designed to be well-rounded. It’s so damaging when another person focuses on what we do not bring to the friendship. The key to any great friendship: focusing on what each friend does contribute to our life. We should not expect any of our friends to be good at EVERYTHING.

If we want to make a knife work more effectively, we sharpen the edge that is already designed to cut. Sharpening the opposite side of the blade would take a substantial amount of time and make the knife more dangerous. Attempting to sharpen the handle would simply defy common sense, as it was never meant to be sharpened. We try and force one person to be sharp in every way – even when it’s a useless or potentially destructive exercise.

Instead, the key is to know the areas where each friendship has the most potential for sharpening.

Vital Friend: 1. Someone who measurably improves your life. 2. A person at work or in your personal life whom you can’t afford to live without.

Does proximity matter in vital friendships? Do friends need to live nearby?

Initially, most people thought proximity could be a major issue. Proximity matters, but maybe not in the case of vital friendships. Proximity matters at the time of FORMING friendships but not necessarily in MAINTAINING them. Strong ties remain strong regardless of distance.

Rabu, 20 Agustus 2008

Another lesson about relationship

I: Gw stuju soal topik lo yang “Jangan Nurunin Standar Buat Pasangan Hidup”.
U: Iya, cuz in the end, I got what I want, everything I want.

I: Tapi gw capek aja banyak banget yg sekarang nanyain gw, “bo elo belum pacaran juga? Kasian banget, sih.”
U: Cuekin aja. Malah enak hatinya.

I: Iya, dan gw mikir, tujuannya gw pacaran apa? Belajar komitmen? Belajar komitmen bisa diliat dari gw nge-handle kerja kuliah sama gereja. Kuliah, kerja, gereja, aja gw enggak bisa handle dengan maksimal, apalagi ditambah punya pacar.
U: Iya, dan komitmen itu enggak butuh belajar. Butuh kesiapan mental iya dan kesadaran, kedewasaan, dan realistis.

I: Tapi kadang suka insecure juga sih, yang pengen pacaran gitu. But it’s like the very least thing yang gw butuh sekarang.
U: Pingin sih wajar banget. Tapi bagus banget elo bisa bedain mana yang elo pingin dan mana yang elo perlu.
I: Iya dan gw percaya sih God’s timing enggak pernah terlambat, walaupun kalo menurut mata orang biasa kadang jalanya lamaa banget. But one thing fo sho, He’s never late.

U: Kalo soal pingin, boleh tau enggak pingin apanya?
I: Pingin punya orang yang bisa diajak pergi, enggak harus ngandelin jadwal temen-temen. Pengen punya orang yang diajak cerita.
U: Ow.. ya, yaa. Tapi kalo salah pilih atau salah satu belum siap juga enggak bisa diajak cerita kok. Jadi punya pacar bukan jaminan ada yang bisa diajak ngomong.

I: Tapi kadang udah ada yang bagus di mata, like perfect, tapi takut ilang gitu. Kalo nungguin gw siap keburu diambil orang, walaupun kata orang tua jodoh sih enggak kemana, ya.. hehe.
U: Haha.. trust me enggak ada yang kayak gitu. Everything beautiful in it’s time. It’s nya 2 orang pada saat yang bersamaan. Kalo cuma 1 enggak bisa beautiful. It takes two to make it happen at one time.
I: Hoho.. berarti jalan gw masih jauh banget dong nyari satu orang itu. Enggak bisa ya, kalo nemu orangnya terus dibekuin dulu di kulkas. Hahaha…
U: Hahaha… semuanya akan berjalan super natural kok. Elo enggak akan tau, tiba-tiba elo ketemu orang itu.

U: Tapi tentunya elo harus tau dulu kriterianya apa, jadi lebih gampang untuk cut down segala kemungkinan.
I: Kriteria mah udah list-nya.
U: Ya udah, stick to it. Inget, jangan pernah discount. Soalnya kalo gitu lo harus bayar di belakangan. Compromise di depan = bayar belakangan.
I: Umm true. Gong banget deh lo.

I: Tapi, gimana kalo enggak semua orang bisa kayak lo? Letak kesalahannya di mana coba?
U: Maksudnya?
I: Like they’re 30 something, dan masih bertahan dengan kriteria mereka, ya mau enggak mau supaya dapet pasangan mereka harus compromise dong, daripada jadi perjaka tua.
U: I’m almost 30, =( Well kalo menurut gw, yang jadi masalah kan kalo perjaka tua dengan kualitas anak remaja. Nah, itu bikin mau muntah. Tapi kalo umur 30 dengan kualitas 30 yang excellent enggak akan jadi masalah. Tapi menurut gw cowok 35 single itu masih wajar.

Selasa, 19 Agustus 2008

Jumat, 15 Agustus 2008

my being editor in chief days

Finally it's been a year.
This month is my beloved magazine's, nu:B, very first birthday.
So last nite me and some of the contributors were celebrating the birthday with NUBI (my magz' icon) in XKTV Senayan City.





Really had a great fun for the past 1 year.
Thanks for all the family and friends that been supporting nu:B..
Biggest thanks for Laras, for recruited me as your assistant a year ago..
Then promoted me as your new Chief Editor a few months ago.

All the journalist, contributors, and photographers, thanks for all your efforts!!

Dinda, Kris, Vina, Alunk, Meljie, Titan, Kiky, Mario, Jeffry, Sherline, Ari, Ida, Elaine
Marcos the art director
And of course the owners Jeff and April.

trip to bandung

I just had a perfect one getaway day on last Sun!
Me and one of my bestie, Cath, went to Bandung
with the concept of road trip.
So we went by travel agent, and there we used public transportation.
Bandung zoo park, asia afrika, braga, and paris van java.. were those that we visited.

It was surelly hell a lotsa fun..
we did the what so-we-call "Amateur-Artsy-Photo-Hunting"
and this was one of the moments that we successfully captured
i so named this pic as "Me Brought My Strappies To Braga Street Side". hoho.


And this is me pic wif Cathrine in "sushiasik" at parisvanjava
(if you translate the name of the resto into bahasa. lol.)