Jumat, 15 Agustus 2008

The Gardener or The Builder?

In life, each person can take one of two attitudes: to build or to plant.

The builders, might take years over their tasks, but one day, the finish what they’re doing. Then they find they’re hemmed in by their own walls. Life loses its meaning when the building stops.

Then there are those who plant. They endure storms and all the many vicissitudes of the seasons, and they rarely rest. But, unlike a building, a garden never stops growing. And while it requires the gardener’s constant attention, it also allows life for the gardener to be a great adventure.

Gardeners always recognize each other, because they know that in the history of each plant lies the growth of the whole world.

Paulo Coelho, from the book, Brida.

The Dark Knight (whysoserious?)

Lagi-lagi karena rasa penasaran yang lumayan tinggi, setelah mendengar sejumlah komplimen teman-teman yang disanjungkan kepada film “The Dark Knight”, saya, yang sebenarnya tidak terlalu suka sama si jagoan kelelawar, Batman, kemarin ini rela pergi nonton sendiri film tersebut, demi memuaskan rasa ingin tahu saya yang memang cukup tinggi.

Hasilnya?
Film berdurasi dua jam lebih itu memang layak disanjungi oleh keempat ibu jari.
Baik dari segi visual yang memanjakan mata, adanya tampilan berbagai kecanggihan perlengkapan bertarung milik Batman, hingga jalan cerita yang lumayan bikin penasaran dan memainkan alur emosi. Masih ada plusnya, yaitu akting (Alm.) Heath Leadger, sebagai Joker, yang penuh totalitas.

I always fall for a movie because of its script (if you’re a musician, the soundtrack must be the first thing that will attract you from a movie, and since I am a writer, the first thing that attracts me is the script). Terlepas dari visualnya jelek atau tidak, kalau ada pesan tersendiri yang bisa saya tangkap dan cukup nyentil pikiran melalui skrip yang ada, saya pasti akan mengklasifikasikan film tersebut dalam kategori layak tonton, atau highly recommended.

“The Dark Knight” buat saya bisa dijadikan sarana bercermin setiap penontonnya. Soalnya, berbagai jenis karakter manusia sepertinya ada di film itu.

Orang-orang di dua kapal feri yang mau diledakkin. Menurut saya, penggambarannya bagus banget, karena di situ seperti dibandingkan, apa iya orang-orang biasa yang kelihatan normal dari luar udah pasti lebih baik dari mereka yang punya cap kriminal dan hidup dalam penjara? Atau ternyata sama aja buruknya? Atau mungkin malah yang kriminal yang lebih baik? Bagian itu seru banget. Memperlihatkan gimana dalam kondisi terdesak, sifat asli manusia bisa keluar, yaitu egois dan mementingkan diri sendiri. But in the end, tetep aja kata hati yang menang. Karena ternyata kedua kapal memutuskan untuk tidak terprovokasi untuk meledakkan kapal yang satunya.

Yang pasti dari film ini saya bisa belajar satu hal. Bahwa manusia itu pasti punya alasan di balik setiap tindakannya. Terlepas dari alasannya itu bener atau salah. Contohnya Joker, jadi seorang psikopat sadis seperti itu karena background keluarga dan masa lalunya yang enggak gitu bagus. Walaupun sebenarnya, kalau kita jadi Joker, kita bisa aja milih, untuk enggak terpengaruh sama masa lalu dan background keluarga, enggak ngasih makan yang namanya rasa benci, dendam, dan rasa insecure karena punya keluarga yang enggak sempurna.

Atau Harvey Dent, orang baik dan hebat, yang justru malah jadi salah satu musuh Batman, Two-Face. Setelah kehilangan Rachel Dawes, dan mengalami luka bakar di wajah, jadi kalap, putus asa, dan memilih untuk memuaskan rasa benci dan dendamnya. Life is just a matter of a choices, agak susah mungkin untuk dijalanin, tapi susah bukan berarti enggak bisa kan.

Makanya kita musti bisa belajar mengerti, belajar menempatkan diri di posisi orang lain, dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Kita jadi manusia, kadang cenderung judgmental, seenaknya mencap apa yang dilakukan orang itu sebagai sesuatu yang tidak benar, dan menganggap apa yang kita percayai itu benar. Padahal definisi benar kita belum tentu sama dengan definisi benar orang lain.

Menerima orang lain, mengerti dan toleransi sama orang lain emang enggak gampang. Pilihannya cuma dua, complain sama keberadaan orang lain yang menurut kita enggak banget, atau mau belajar terima kondisi dan kekurangan orang lain dengan memperbesar kapasitas hati kita. The decision is yours.

Saya sendiri, akhir-akhir ini lagi ada di posisi itu. Mau pilih mana, ngedumel, ngomel, dan cranky sendiri karena harus ketemu sama orang yang cara pikirnya enggak bisa saya ngerti. Atau mau belajar sabar, dan menganggap ini sebagai sarana pembentukan karakter.

I hope you get my message, you can choose whether you want to be a complainer or a person with a bigger heart. Lagi-lagi, life is just a matter of choices.



P.S. Oh ya sekedar iseng-iseng silahkan buka www.whysoserious.com

Hancock

Kemarin akhirnya saya kesampaian juga nonton Hancock.
Setelah penasaran sama pendapat teman-teman yang udah nonton dan mengkategorikan film tersebut sebagai film jelek dan enggak punya jalan cerita yang jelas, walaupun visualnya memang bagus.

Ternyata, setelah saya tonton, saya punya pendapat sendiri.
Memang, jalan ceritanya kurang maksimal, visualnya memang bagus kalau dibandingkan dengan teknik visual dari negeri sendiri, tapi menurut saya, film tersebut menyampaikan banyak pesan menarik yang bisa dipelajari.

Apa aja sih yang bisa dipelajari dari film Hancock?

1. Belajar bersyukur. Manusia jaman sekarang cenderung egois dan penuntut. Sudah terbiasa dengan segala kenyamanan yang ditawarkan dunia, begitu merasa tidak nyaman sedikit complain. Contohnya, masyarakat yang enggak suka sama kehadiran Hancock. Hancock udah berhasil menghentikan sebuah perampokan, bukannya terima kasih, terlepas dari cara Hancock yang emang agak nyeleneh, mereka malah marah-marah dan menganggap Hancock sebagai perusak fasilitas.

2. Itu kalau dari sisi masyarakat. Kalau dari sisi Hancock kita bisa belajar untuk jadi bijaksana. Berpikir dulu sebelum bertindak. Contohnya, waktu Hancock menyelamatkan Ray dari kereta api, di situ banyak warga yang protes sama cara Hancock menghentikan kereta api. Kenapa Hancock enggak angkat aja mobilnya Ray, terbang, terus dikembalikan lagi dengan aman, sehingga enggak harus ada banyak kerusakan yang terjadi. Pelajarannya, sehebat apa pun kita, kalau kita malas mikir, kalau kita bertindak seenak jidat, orang enggak akan respek sama kehebatan kita.

3. Belajar untuk tampil menarik. Maksudnya? Ya menarik dari cara kita mengemas diri kita, baik dari segi penampilan, kebersihan, cara bicara, tingkah laku, dan sebagainya yang terlihat dari luar. Manusia selalu melihat penampilan. Enggak usah bohong, setiap kita ketemu orang baru, kita pasti langsung nilai orang itu dari cara berpakaiannya, skala 1-10, bahkan ada yang minus. Apa yang kita tampilkan dari luar itu penting, impresi pertama yang orang dapat dari apa yang kita kenakan itu penting. Gini aja, kalau kita ketemu orang yang menurut kita menarik, kita pasti ada keinginan untuk kenal orang itu lebih lagi, soal karakternya gimana, itu urusan nanti. Tapi kalo dari luar keliatannya enggak menarik, pengen enggak untuk tau orang itu lebih lagi?

Dari Hancock kita bisa belajar, bahwa sehebat apa pun kita, kalau kita enggak pinter mengemas diri kita dengan baik, ya orang juga enggak akan tertarik dan respek sama keberadaan kita. Penampilan luar memang penting, tapi harus diimbangi juga sama karakter yang bagus. If you can’t attract me by your outlooks, how can you attract me more?

4. Belajar menahan diri demi perubahan ke arah yang lebih baik. Contohnya, waktu Hancock menyerahkan dirinya ke polisi, waktu lagi bacain permintaan maaf di depan pers dan masyarakat, Hancock harus tahan dihina-hina sama masyarakat. Dia harus betah tinggal di penjara selama 2 minggu, padahal kalau dia mau kabur bisa aja. Ikut kelas anger management dan terapi alkohol. Dan inget waktu Hancock ngambil bola basket di luar penjara, dia sempat tergoda untuk kabur, tapi ternyata dia terbang balik ke dalam penjara. Intinya, kalau kita mau berubah, it takes persistence and commitment, serta routine consistency. Yang paling dasar sih it takes your willingness to change. No matter how hard it is.


5. Belajar patuh dan merendah. Hancock diajarin etika sama Ray kalau mau jadi pahlawan yang diterima masyarakat. Kalau mendarat jangan sampai ngancurin aspal kan bisa. Kalau mau masuk ke gedung kan bisa lewat pintu, walaupun dengan kekuatan Hancock, dia bisa masuk dengan cara apa pun. Dan belajar untuk kasih komplimen ke orang lain, seperti bilang ”Good Job” ke polisi-polisi.

6. Belajar berkorban. This might sound so cliché, tapi saya terharu ketika Hancock mengorbankan perasaannya terhadap Mary, supaya Mary bisa tetap hidup. Begitu juga dengan Mary, yang memilih untuk meninggalkan Hancock 80 tahun yang lalu di sebuah rumah sakit, supaya Hancock bisa tetap hidup.

7. Kalau dari sisi Ray, kita bisa belajar menjadi teman yang baik. Kriterianya apa? Pertama, harus bisa bikin temen kita percaya sama omongan kita. Berkali-kali Ray berusaha meyakinkan Hancock dengan rencananya sambil bilang, ”trust me”, ”you gotta believe me on this”. Setelah ngomong gitu, tentu harus ada pembuktiannya, jangan cuma ngomong, supaya temen kita bisa bener-bener percaya sama omongan kita. Dan belajar tegas, plus harus berani ngomong yang pedes ke temen. Apalagi kalau punya temen yang bebal. Dikasih tau berkali-kali enggak mau denger. A true friend is someone who tells you what you NEED to hear, not what you WANT to hear.

8. Yang terakhir, dan yang paling menarik menurut saya adalah sepenggal kalimat yang sempat diucapkan Mary. Yang intinya kurang lebih seperti ini, ”Hidup kita bukan ditentukan sama takdir, tapi sama pilihan dan keputusan yang kita buat sendiri”. So stop blaming your destiny everytime you have problem, or whenever shit happens to you. Who you are right now is determined by your decision in the past, is determined by your choices in the past, is determined by the things that you’ve done in the past.

Note ini dibuat tanpa maksud menggurui. I know I am not a perfect human, and I am not, in any ways, better than you all. This is just a media for me to share my thoughts.

Comfort Zone

Sudah dua hari ini saya mengalami perbincangan menarik dengan beberapa teman dekat.

Biasalah, mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir.. yang selama ini asyik bergantung hidup sama orang tua, sebentar lagi harus berhadapan dengan yang namanya kerja praktek alias magang alias internship, sebentar lagi wisuda, dan dilepas ke dunia nyata berusaha bertahan hidup dengan usaha sendiri.

Dua hari kemarin dengan seorang teman baik, di mobil dalam perjalanan pulang ditemani macet Jakarta, kita bicara soal nikah, hidup sendiri, dan kemapanan. Agak mengerikan..

Tadi siang, selepas makan siang, kembali saya dan beberapa teman mengangkat topik yang sama.

Siap enggak sih kita-kita ini yang udah segitu enaknya selama kurang lebih 20 tahun bergantung hidup sama orang tua, mulai mandiri.. tinggal, cari duit, dan mengurus segala-galanya sendiri, tanpa harus lagi mengusik dan membebani orangtua?

Seorang teman yang tinggal sendiri, bilang, betapa dia kangen orangtuanya yang tinggal di daerah lain di pulau Jawa. Berasa gimana ribetnya ngurus rumah sendiri, bayar tagihan sendiri, kerja, belanja dan ngatur uang sendiri.

Seorang teman bilang dia enggak sanggup untuk kerja dan membayangkan dirinya tinggal jauh dari orangtua, plus enggak ada pembantu pula.

Bayangan-bayangan rumit pun mulai menjajah. Bayangan segenap kebutuhan yang harus dimiliki dengan usaha sendiri, mobil, rumah layak tinggal dengan perlengkapannya, biaya kebutuhan sehari-hari, uang sekolah anak (yang enggak tau berapa mahalnya ketika angkatan saya mulai berkeluarga nanti), belum perintilan-perintilan lain, misalnya anak minta dirayakan ulang tahunnya.

Yang perempuan ketakutan, apa iya bisa dapat suami yang memenuhi taraf hidup mereka.
Yang laki-laki ketakutan juga, apa iya kita bisa memenuhi taraf hidup kita, istri kita nanti, yang punya orangtua juga, which is kita harus bisa tanggungjawab juga ke orangtua sang istri, serta biaya kehidupan anak-anak?
Mengingat jaman sekarang yang apa-apa serba susah dan mahal?

Salah enggak sih kita dilahirkan pada generasi ini? Generasi MAHAL. Well, enggak pernah ada yang salah si di dunia ini, segala sesuatu itu ada alasan dan maknanya sendiri.

Bayang-bayang gila sempat terlintas. Kebetulan tahun ini saya berusia 21 tahun. Ingin rasanya merayakan perpindahan umur di stage 20an ini dengan meriah. Tapi gara-gara pembicaraan tadi justru malah ketakutan dan kesuraman yang datang ke dalam imaji.

Hidup yang semakin penuh tuntutan dan tanggungjawab, serta rasa malu kalau masih bergantung pada orangtua. Saya jadi ingin merayakan ulang tahun saya dengan tema hitam-hitam, dengan makanan basi, ikan asin, dan minuman-minuman pahit seperti jamu, untuk menandai keengganan untuk beranjak lebih tua.

Sekarang kita semua mengerti, kenapa ibu kita suka survey tempat belanja kalau mau belanja bulanan. Beli kebutuhan beras, minyak, gas, air, listrik, sampai yang kecil-kecil kayak kebutuhan mandi. Kita selama ini tinggal pakai, enak minta orangtua. Sementara mereka yang pusing harus putar otak, gimana caranya supaya kita, anak-anaknya, bisa hidup dengan layak dan enggak kekurangan.

Sekarang kita juga ngerti, kenapa kadang-kadang si ayah suka ribut kalau kita boros pake listrik, nyalain lampu sembarangan, atau mungkin enggak mau makan di rumah, karena menunya kurang enak. Kadang kita juga enggak ngerti, kalau kita minta sesuatu, dan permintaan kita harus ditunda oleh orangtua.

Mungkin selama ini kita udah terlalu nyaman ada di comfort zone yang diberikan oleh orangtua. Mau apa-apa tinggal minta. Nah, sekarang giliran kita mau dilepas sendiri.. agak berat rasanya, tapi mau enggak mau harus dijalani kalau memang mau maju.

Hmm.. ya sudah, seperti apa nanti hasil dari perbincangan saya dan teman-teman di kemudian hari? Mari sama-sama berdoa dan berharap melihat hari depan yang moga-moga sukses dan bahagia. Amin.

you do, don't you?

this one goes for all the dumbass j in this universe.
taken from the red jumpsuit apparatus lyrics’ face down

Do you feel like a man when you push her around?
Do you feel better now as she falls to the ground?
Well I'll tell you my friend, one day this world's going to end
as your lies crumble down, a new life she has found.

A pebble in the water makes a ripple effect
every action in this world will bear a consequence
If you wade around forever you will surely drown
I see what's going down.

I see the way you go and say you're right again,
say you're right again
heed my lecture

"Terserah, Boy"

Dosa apa sih yang seringkali kita pikir, kecil, enggak bakal ngerugiin banyak orang, dan sekali dilakukan kayaknya bikin pengen untuk ngelakuin lagi..

Menurut gw sih BOHONG.

Enggak enak ya kalo tau kita dibohongin??
Apalagi kalo dibohongin sama orang-orang terdekat misalnya sodara, pacar, teman atau sahabat.

Banyak banget kasus bohong-membohongi yang sering gw denger..
Gw sendiri juga beberapa kali ngalamin.
Paling gedeg kalo dibohongin sama temen sendiri ya..
Misalnya dia punya masalah, terus nyeret2 kita ke dalam masalah itu bawa-bawa nama kita.
Terus udah dibantuin segala macem, udah ditunjukkin kalo kita perduli sama dia, balas budi yang didapet apa?? Dibohongin.
Mending sekali dua kali, tapi kalo berkali-kali gimana tuh?

Yah gw enggak sok suci sih. Gw juga suka bohong.
Tapi mbok ya kalo bohong tuh yang masuk akal, dan kalo udah ketahuan bohong mbok ya ngaku aja, ngaku kalo elo emang bohong dan minta maaf, bukannya malah bikin kebohongan baru.

Hello??

Hah, suka capek kadang ya sama temen sendiri.. kalo ada temen yang dapet masalah, kita sebisa mungkin memposisikan diri sebagai pendengar yang baik.. be there for them. Kita kasih nasihat, saran dan sebagainya demi kebaikan dia sendiri..

Tapi nasihat kita cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan.. dianya bikin lagi kebodohan yang sama. Tapi nanti kalo udah apes, nyari-nyari kita lagi, nangis curhat-curhat.

Hmm.. gw enggak tau ya kalian gimana, tapi kalo gw sih termasuk tipe temen yang tega. Elo boleh dateng ke gw kalo ada masalah, gw kasih nih solusinya, diikutin sukur, enggak diikutin juga enggak apa-apa. Tapi satu, kalo kejeblos lagi jangan cari-cari gw ya!

Paling ujungnya gw cuma bisa bersenandung kecil “Terserah Boy.. ku hanya mengingatkan..” sambil geleng-geleng sedih ngeliat temen gw yang keras kepala dan enggak mau dibantuin.

Dokter mana bisa nyembuhin pasien, kalo pasiennya sendiri enggak merasa butuh untuk disembuhin.

Hectic Weeks!

Hectic Weeks!

I’ve been having a very hectic weeks lately, especially after I got my promotion.. (hehe ya iyalah masa ya iya dong)

It’s just sometimes, it makes me missing (like really really really) my youth.
You know, daydreaming time, laid back, hanging out with my friends after campus, go to mall, watch movies, chatting in coffee shop, party in weekend, sleepover at friends

It just suddenly gone.. like somebody has taken it away from me.

I have to go to the office after my campus, still working on some articles in weekend, chasing all the deadlines, make sure that everything went well, huff.. it’s really not easy to run a magazine. If ever I hear someone talking cheap about how easy it is to run a magazine, I’m so gonna punch his face.

But I do love my job.

I’m not complaining here, or being an ungrateful one.. no, not at all, never crossed my mind.

It just, some times I feel so tired, got so sleepy when I came home, not to forget that I still have to deal with all my campus assignments. So many tasks, so little time.

But as one of my friend said to me, I’d prefer losing my youth in your way. Because you lost it for the sake of doing something that you love, and obviously this gonna bring a great impact to your future. You know a lot of people out there are missing their youth, they lost their future because they’ve done nothing in their youth.

Yeah, so I nodded and agreed to what he said.

Abis "I Love You" Ada Apa Lagi?

Laki-laki: Aku sayang kamu.

Perempuan (ketutupan awan gede): Aku juga sayang kamu.

Laki-laki: …

Perempuan (berharap ditembak): Terus..?

Laki-laki: Umm.. ya udah, aku cuma mau ngutarain perasaan aku aja. Aku belom bisa kasih komitmen sekarang, abis kayaknya masih kecepetan, gimana kalo kita lakukan ini pelan-pelan banget, sambil saling kenal dulu?

ADUHH.. pernah ada di situasi kayak gitu?? Jangan sampe ya, amit-amit!! Itu namanya HTS-an.

Menurut gw, pengakuan itu butuh ditindaklanjuti dengan yang namanya komitmen. Kalo cuma bisa bilang sayang, tapi enggak bisa kasih komitmen, itu namanya enggak sayang, dodol!!

Kalo elo sayang, begitu elo akuin perasaan elo, akan kasih tindak lanjut, sesuatu yang bisa elo tawarkan sebagai kelanjutan dari ekspresi sayang elo, yang notabene udah pasti, udah absolut diharapkan perempuan adalah KOMITMEN!!

Kalo cuma mau nunjukkin rasa sayang juga bisa, sebagai temen, ada begitu banyak cara untuk nunjukkin rasa sayang dan perduli lo ke seseorang.

Perempuan, hati-hati, kalo ada cowok ngomong gini:

I love you, but I can not make any commitment right now. I want to take this thing really slow, besides I want to get to know you more first.

Sebenernya yang dikatakan adalah ini:

I love you, I would like you to be my girlfriend, but it is just not now. I need to make sure whether you are the one or not, but stay focus with me, don’t get any closer to any guy, because actually you already mine. But I can just leave you any time I want.

Men are selfish, indeed, but most of the time we cover our piles of junks with our sweet words and actions!!

Dan laki-laki, mbok ya sekali-kali mikirnya agak panjang sedikit kenapa?? Kalo ke depannya enggak jelas mau dibawa ke mana, enggak ada juntrungannya, ya ngapain juga dilakukan?? Enggak kenal yang namanya proses menunggu dan belajar sabar ya??

Semua tuh soal TIMING.

Kayak gini aja contohnya, sekarang nih kita tinggal di Indonesia, yang iklimnya enggak jelas, siang bisa panas terik, malem bisa ujan gede bahkan bawa banjir. Satu hari elo liat coat, atau sweater keren banget, karena elo pikir lagi musim ujan elo beli, deh. Tapi besoknya elo mau pake, saking keren, dan saking sukanya, sayangnya cuacanya lagi panas.

Terus elo mikir, ah ya udah pake aja, toh sekarang cuaca lagi enggak tentu, mana tau entar ujan. Kan bisa berfungsi deh sweater gw yang keren ini.
Kata MANA TAU, itu adalah sebuah kebodohan.

Kenapa enggak nunggu sampe bener-bener udah pasti bakal ujan baru elo pake, at least bawa di tas buat jaga-jaga enggak apa-apa, tapi jangan DIPAKE DULU, TUNGGU, dan yang paling penting BELAJAR SABAR, yaa!

Careful With The 'L' Word

There are two different opinions about when is the right time to say "I Love You" to the person we love, or the person we (think) are in love with:

1. Say it when it is there in your heart. Without considering any future impacts, take all the risk and stick with all the consequences. This one works for the risk-taker people.

2. Say it if it complies with two conditions:

a. The TIMING IS RIGHT
b. The girl/guy is the one that you are really looking for (and seem to have the same interest with you)

I'd prefer the second one.

Maybe you think I'm a coward, all-conservative, I always been this guy who loves to play behind the safety line, but I'm all about carefulness.

Maybe you are sloppy with your selection of words and slang in daily conversations, but always be very careful with those "L" words.

You don't want to hurt anyone, right?

Hollaa lama tidak sua

Aduh. lama tidak dikunjungi blog ini, saking sibuknya.
Sudah mulai berdebu dan nampak usang.
Tapi saya butuh untuk menuangkan pikiran ini dalam bentuk tulisan.
Jadi sekarang saya kembali, menggunakan account saya di sini.
Selamat membaca kembali!